Jumat, 15 Januari 2010

Bencana Ekologis dan Konflik Agraria/SDA Tak Berkesudahan


politiksaman.com-Opini (15/01),Di tahun 2009, Propinsi Sumatera Selatan terus dibanjiri dengan rentetan bencana ekologi dan sengketa SDA. Praktek ’sesat fikir’ pembangunan yang diterapkan, semakin mempertajam kwalitas dan kwantitas persoalan lingkungan hidup di daerah ini. Kebijakan pembangunan, baik yang merupakan warisan masa lalu maupun yang tengah dilangsungkan saat ini, terus saja menegasikan asfek-asfek keadilan lingkungan dan kepentingan rakyat.
Beberapa catatan kritis terhadap potret persoalan lingkungan di tahun 2009, dapat kami paparkan sebagai berikut :

Potret Hutan Sumatera Selatan
Hutan Sumatera Selatan terus mengalami penghancuran dan penyusutan. Berbagai aktifitas industri, seperti; pertambangan, perkebunan, pertambakan dan Hutan Tanaman Industri (HTI) serta pembangunan infrastruktur (pelabuhan dan rel kereta api), merupakan penyumbang terbesar kerusakan hutan Sumatera Selatan. Belum lagi persoalan seperti pembalakan liar dimana sepanjang tahun 2009 masih secara intensif terjadi diberbagai tempat seperti Pagar Alam, Musi Rawas, OKI, dan Musi Banyuasin – telah semakin memperburuk wajah hutan di daerah ini.

Di sektor Pertambangan – berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh WALHI Sumsel, setidaknya di Kabupaten Lahat terdapat hampir 20 ribu hektar kawasan hutan yang saat ini telah dijadikan sebagai kawasan penambangan terbuka oleh beberapa perusahaan, diantaranya : PT. Bukit Asam, PT Bara Lahat, PT Bumi Merapi Energi, PT. Bara Alam Utama, PT. Muara Alam Sejahtera dan PT. DAU. Kuasa Penambangan (KP) tersebut tersebar dibeberapa Kecamatan, diantaranya; Kecamatan Merapi Barat, Merapi Timur, Merapi Selatan, Gumay Talang, Kikim Barat, Kikim Timur dan Pulau Pinang. Parahnya Kuasa Penambangan di dalam kawasan hutan tersebut, hingga saat ini belum mendapatkan izin pinjam kawasan sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999.

Di sektor Perkebunan – eksistensi PT. Sentosa Mulya Bahagia (SMB) di Kabupaten MUBA, yang memperluas usahanya hingga mencapai ribuan hektar di kawasan Hutan Suaka Margasatwa Bentayan masih terus berlangsung. Kerusakan hutan untuk keperluan industri perkebunan juga terjadi di beberapa tempat di Kabupaten Lahat. Sementara usaha penambakan di kawasan hutan terdapat di Kabupaten OKI dan Banyuasin.

Pada sektor Hutan Tanaman Industri – PT. Rimba Hutani Mas (RHM) yang terletak di Kabupaten MUBA, saat ini telah dan semakin masif menghancurkan kawasan hutan alam gambut Merang – Kepayang. Berdasarkan penelusuran dan identifikasi yang dilakukan WALHI Sumsel bersama Wahana Bumi Hijau (WBH) ditemukan bahwa PT. RHM terus mengeksploitasi kawasan hutan gambut tropis tersebut yang saat ini sesungguhnya merupakan satu-satunya yang masih tersisa di Sumatera Selatan. Pada areal PT. RHM -------.......

WALHI Sumatera Selatan

2 komentar:

Unknown mengatakan...

mantap infonya
semoga bermanfaat bagi banyak org
thanks ya

Unknown mengatakan...

artikel nya sangat basus
dan menarik untuk dibaca
terimakasih atas info ny

Posting Komentar

untuk teman-teman yg belum punya web or blog pada bagian kolom "BERI KOMENTAR SEBAGAI" : pilih Name / URL, Kolom nama di isi sesuai nama anda dan pada kolom URL kosongkan saja, demikianlah & terima kasih atas partisifasinya

ARSIP

KONSENSUS

BERANDA

PUISI & SASTRA